Senin, 09 Januari 2012

Sejarah Nama Indonesia


Sebelum kedatangan bangsa Eropa
PADA zaman purba kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama.


Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai *Nan-hai* (Kepulauan Laut Selatan).Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini *Dwipantara* Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta *dwipa* (pulau) dan *antara* (luar, seberang).

Kisah Ramayana karya pujangga Valmiki yang termasyhur itu menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke *Suwarnadwipa* (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.

Bangsa Arab menyebut tanah air kita *Jaza’ir al-Jawi* (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah *benzoe*, berasal dari bahasa Arab *luban jawi*(kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon *Styrax sumatrana* yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra .

Sampai hari ini jemaah **** kita masih sering dipanggil “Jawa” oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. “Samathrah, Sholibis, Sundah, kulluh Jawi (Sumatra, Sulawesi , Sunda, semuanya Jawa)” kata seorang pedagang di Pasar Seng, Mekah.


Masa kedatangan Bangsa Eropa

Lalu tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia . Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang itu beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab , Persia , India , dan Cina. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Cina semuanya adalah Hindia”. Semenanjung Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”. Sedangkan tanah air kita memperoleh nama “Kepulauan Hindia” (*Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien*) atau “Hindia Timur” *(Oost
Indie, East Indies , Indes Orientales)* . Nama lain yang juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (*Maleische Archipel, Malay Archipelago , l’Archipel Malais*).

Ketika tanah air kita terjajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang digunakan adalah *Nederlandsch- Indie* (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah *To-Indo* (Hindia Timur).

Berbagai Usulan Nama

Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde*, yang artinya juga “Kepulauan Hindia” (bahasa Latin *insula* berarti pulau).

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/0/00/Eduard_Douwes_Dekker_-_001.jpg
Eduard Douwes Dekker

Tetapi rupanya nama *Insulinde* ini kurang populer. Bagi orang Bandung , *Insulinde* mungkin cuma dikenal sebagai nama toko buku yang pernah ada di Jalan Otista.

Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang kita kenal sebagai Dr. Setiabudi (beliau adalah cucu dari adik Multatuli), memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata “ India ”. Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya.

Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 Lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.

Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari *Jawadwipa*( Pulau Jawa).

Kita tentu pernah mendengar Sumpah Palapa dari Gajah Mada, *”Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa” *(Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat). Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyah itu diberi pengertian yang nasionalistis.

Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu “nusa di antara dua benua dan dua samudra”, sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern.

Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda. Sampai hari ini istilah nusantara tetap kita pakai untuk menyebutkan wilayah tanah air kita dari Sabang sampai Merauke. Tetapi nama resmi bangsa dan negara kita adalah Indonesia . Kini akan kita telusuri dari mana gerangan nama yang sukar bagi lidah Melayu ini muncul.

Nama Indonesia
Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, *Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia * (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), orang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865),menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.

http://www.nzetc.org/etexts/WarEarl/WarEarl335b%28h280%29.jpg
James Richardson Logan


Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel *On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations*. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (*a distinctive name*), sebab nama Hindia Tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: *Indunesia*atau *Malayunesia* (*nesos* dalam bahasa Yunani berarti Pulau).

Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis: *… the inhabitants of the Indian Archipelago or malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians.*

Earl sendiri menyatakan memilih nama *Malayunesia* (Kepulauan Melayu) daripada *Indunesia* (Kepulauan Hindia), sebab *Malayunesia* sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan *Indunesia* bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah *Malayunesia* dan tidak memakai istilah *Indunesia*. Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel *The Ethnology of the Indian Archipelago. * Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanahair kita, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu panjang dan membingungkan.

Logan memungut nama *Indunesia* yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan : *Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia , which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago. * Ketika mengusulkan nama “ Indonesia ” agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama bangsa dan negara yang jumlah penduduknya peringkat keempat terbesar di muka bumi!

Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama “ Indonesia ” dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku *Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel* sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun 1864 sampai 1880.

Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah “Indonesia” di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah “Indonesia” itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam *Encyclopedie van Nederlandsch-Indie*tahun 1918.

Padahal Bastian mengambil istilah “ Indonesia ” itu dari tulisan-tulisan Logan. Putra ibu pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah “ Indonesia ” adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama *Indonesische Pers-bureau. *
Masa Kebangkitan Nasional
Makna politis


Pada dasawarsa 1920-an, nama “ Indonesia ” yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama “ Indonesia ” akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan! Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu. Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa *Handels Hoogeschool* (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam , organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama *Indische Vereeniging* ) berubah nama menjadi *Indonesische Vereeniging* atau Perhimpoenan Indonesia . Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

http://sudhew.files.wordpress.com/2008/08/hatta.jpg
Bung Hatta

Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, “Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (*de toekomstige vrije Indonesische staat*) mustahil disebut “Hindia Belanda”. Juga tidak “Hindia” saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli.

Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (*een politiek doel*), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (*Indonesier*) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya. “ Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan *Indonesische Studie Club*pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 *Jong Islamieten Bond* membentuk kepanduan *Nationaal Indonesische Padvinderij* (Natipij).

Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama “ Indonesia ”. Akhirnya nama “ Indonesia ” dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda. Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota *Volksraad* (Dewan Rakyat; DPR zaman Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardji Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama “Indonesia” diresmikan sebagai pengganti nama “Nederlandsch- Indie”.

http://anggitmimetrue.files.wordpress.com/2008/10/250px-kongrespemuda2.jpg
Kongres Pemuda

Tetapi Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah. Maka kehendak Allah pun berlaku. Dengan jatuhnya tanah air kita ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama “Hindia Belanda” untuk selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, lahirlah Republik Indonesia.

Cara Kerja Disk Defragmenter



Kata "disk defrag" biasanya digunakan untuk merujuk pada tools yang terdapat pada Microsoft Windows yang disebut Disk Defragmenter . Hal ini dirancang untuk memecahkan masalah yang terjadi karena cara hard disk menyimpan data.
Beberapa fakta tentang hard disk:
  • Hard disk Menyimpan data dalam potongan yang disebut sektor . Jika Anda membayangkan permukaan disk dibagi menjadi cincin (seperti lingkaran pada potongan balok pohon), dan kemudian membayangkan potongannya masing-masing dibagi menjadi irisan-irisan, sektor adalah salah satu irisan dalam ring tersebut. Setiap sektor memiliki jumlah data yang tetap, seperti 512 byte.
  • Hard disk memiliki lengan kecil yang dapat berpindah dari cincin ke cincin pada permukaan disk. Untuk mencapai sektor tertentu, hard disk menggerakkan lengannya ke ring yang dituju dan menunggu sampai sektornya mengarah ke posisi lengannya.
  • Hard disk ymembutuhkan waktu untuk menggerakkan lengannya dan untuk pergerakkan sektor ke posisinya, yang jika data yang tersimpan terbagi di berbagai ring dan sektor yang berbeda, yg bisa menyebabkan lambatnya proses kerja hard disk. 
Karena fakta nomor 3 tersebut, dibutuhkan cara untuk meminimalkan gerakan lengan sebanyak mungkin, dan agar data yang tersimpan di segmen berurutan pada disk.
Jadi mari kita bayangkan bahwa Anda menginstal aplikasi baru ke hard disk kosong. Karena disk kosong, komputer dapat menyimpan file-file aplikasi ke dalam sektor-sektor yang berurutan pada cincin berurutan. 
Ketika Anda menggunakan disk, kemudian Anda menghapus file untuk mengosongkan ruang. File-file yang Anda hapus akan tersebar di seluruh permukaan disk. Dan ketika Anda memuat aplikasi baru atau file besar ke disk, maka akan disimpan dalam ratusan atau ribuan ruang kosong yang tersebar. Jadi, setelah itu ketika komputer mencoba untuk memuat potongan yang tersebar, lengan disk harus bergerak di seluruh permukaan yang dibutuhkannnya yang menyebabkan lamanya proses kerja hard disk.

http://www.computers.bg/img/upl/UltimateDefrag_Fig.jpg
Ide di balik Defragmenter disk untuk memindahkan semua file sehingga setiap file disimpan pada sektor yang berurutan pada cincin berurutan dalam disk. Selain itu, Defragmenter yang baik juga dapat mencoba untuk mengoptimalkan sesuatu yang lebih, misalnya dengan menempatkan semua aplikasi "dekat" dengan sistem operasi pada disk untuk meminimalkan gerakan ketika beban aplikasi. Ketika dilakukan baik pada disk yang lebih tua, defragmenting secara signifikan dapat meningkatkan kecepatan loading file. Pada disk baru yang belum pernah mengisi atau memiliki sejumlah besar penghapusan file, maka, hampir  tidak ada efek karena semuanya sudah disimpan secara berurutan.

Seperti yang Anda bayangkan, proses indivdually mengambil dan memindahkan ribuan file pada hard disk yang relatif lambat tidak proses cepat - biasanya membutuhkan jam. 

Untuk menjalankan Defragmenter dengan benar, pastikan Anda tidak memiliki aplikasi yang sedang berjalan. Tekan (Ctrl + Alt + Del) untuk melihat aplikasi yang sedang berjalan. Lihat juga aplikasi yang berjalan dalam system tray, termasuk Anti Virus. Menonaktifkan screen saver juga diperlukan. Defragmenter akan gagal untuk tetap berjalan jika sistem anda terus-menerus mengakses beberapa aplikasi lain.

Defragmenter membutuhkan waktu yang cukup lama, jadi mulailah menDefragmenter disk sebelum pergi keluar atau di akhir hari, sebelum tidur.


Minggu, 09 Januari 2011

Indahnya Berbagi Kebahagiaan

Setiap manusia pada hakekatnya dilahirkan dalam kondisi yang sama yakni sama-sama telanjang. Faktor lingkungan lah yang menentukan kehidupan dia selanjutnya. Untuk yang terlahir dilingkungan yang serba berkecukupan tentunya diberikan serba kemudahan baik ketika dia lahir maupun kelak ketika dia dewasa. Berbeda dengan yang hidup serba kekurangan. Ketika  terlahir pun terkadang harus dilewati dengan penuh kesulitan. Mulai dari ditolak rumah sakit karena orang tuanya tidak ada biaya sampai akhirnya lari ke dukun beranak karena sudah tidak tahu harus kemana lagi untuk melahirkan. Dalam hal ini sebetulnya pemerintah telah memberikan solusi bagi orang yang tergolong tidak mampu dengan program kartu gakinnya. Akan tetapi pada prakteknya masih banyak sekali kita jumpai dilapangan yang ternyata program tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya. Tetap aja si miskin sangat sulit sekali mendapatkan apa yang disebut dengan jaminan kesehatan. Boro-boro mikirin kesehatan untuk mencari makan saja sulit. Sungguh sanagat tragis dimana kita hidup di sebuah negari yang dulu terkenal dengan zamrud katulistiwanya, gemah lipah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo. Yang mana sebuah negeri yang subur kaya akan hasil alam dan hasil buminya serta aman tenteram dan damai. Itu dulu. Kalo sekarang.......ya anda sendirilah yang menilainya. Itu seh penilaian saya.
Di masa hidup yang amat sulit ini, kebahagiaan tentunya menjadi dambaan setiap orang baik si kaya maupun si miskin. Dan masing-masing tentunya berbeda dalam memaknai setiap kebahagiaan yang didapat. Contohnya : si kaya tentunya dengan materi yang dia punya dia akan sangat bahagia jika dia mendapatkan apa yang dia inginkan sebuah mobil misalnya. Sementara si miskin dia juga akan sangat bahagia ketika makan dalam satu nampan bersama seluruh anggota keluarga karena makanan yang serba terbatas. Jika kita perhatikan contoh tadi dapat kita ambil kesimpulan bahwasannya kebahagiaan yang didapat ada dua yakni karena harta (si kaya) dan karena keluarga (si miskin). Ini menurut pendapat saya secara garis umum. Untuk itu dengan masing2 kelebihan dan kekurangan yang ada, akan sangat indahnya jika kita saling berbagi kebahagiaan. Si kaya dengan hartanya membantu si miskin, yang mana dalam agama disebut zakat dan sedekah. Sementara si miskin dengan rasa kekeluargaannya membantu si kaya menghibur ketika sedang dalam kesusahan. Hidup ini sungguh nikmat jika kita bisa saling berbagi. Hidup ini juga indah jika kita saling mengasihi. Dan hidup menjadi berarti jika dari berbagi membuat bahagia satu sama lain. Maka, marilah saling berbagi kebahagiaan demi indahnya hidup.

By RIDWAN
(Dibuat jam 21.00 WITA)

Sabtu, 08 Januari 2011

Biografi Amir Hamzah

Tengku Amir Hamzah merupakan sastrawan yang dijuluki Raja Penyair Pujangga Baru. Amir Hamzah yang juga bergelar Gelar Pangeran Indra Pura, dilahirkan 28 Februari 1911 di Sumatera Timur, keturunan bangsawan Langkat Tengku Pangeran Muhammad Ali dan Tengku Mahjiwa.
 Biografi Amir Hamzah
Tengku Amir Hamzah kecil, menghabiskan pendidikan HIS dan belajar mengaji di belakang Masjid Azizi Langkat. Kemudian melanjutkan pendidikan MULO di Medan dan Batavia. Semenjak sekolah AMS jurusan Sastra Timur di Solo, kepenyairannya semakin terbentuk. Di kota solo, Amir Hamzah aktif dalam pergerakan kebangsaan menuju Indonesia Merdeka dan terpilih menjadi Ketua Indonesia Muda cabang Solo pada Kongres Indonesia Muda pertama.
Selanjutnya Tengku Amir Hamzah pindah ke Batavia belajar ilmu hukum di Recht Hoge School sampai tingkat kandidat. Bersama Sutan Takdir Alisjahbana dan Sanusi Pane, Amir Hamzah mendirikan majalah Pujangga Baru dan mengelolanya, hingga pecah perang dunia kedua.
Keaktifan Amir Hamzah dalam berorganisasi dan kedekatannya dengan kaum pergerakan, membuat Belanda pada waktu itu menjadi gusar. Belanda menyurati keluarganya di Langkat, kemudian oleh pembesar Langkat menjemput Amir Hamzah pulang. Di Langkat beliau dinikahkan dengan seorang putri bangsawan istana, bernama Tengku Kamaliah, kemudian dinobatkan bergelar Pangeran. Dari pernikahannya, Tengku Amir Hamzah memperoleh seorang anak yang diberi nama Tengku Tahura Alautiah.
Pada 29 Oktober 1945 Tengku Amir Hamzah diangkat menjadi Wakil Pemerintah RI untuk Langkat yang berkedudukan di Binjai. Belum setahun menjabat, Amir Hamzah ditangkap oleh kelompok front rakyat ketika sedang bergejolak revolusi sosial di Sumatera Timur.
Amir Hamzah dibawa ke Kwala Begumit untuk menghadapi pengadilan kilat ala hukum rimba (hukum pancung) pada 20 Maret 1946. Amir Hamzah pergi menghadap sang Khalik dalam usia 35 tahun. Jenazahnya ditemukan di sebuah pemakaman massal yang dangkal di Kwala Begumit, lalu dimakamkan secara layak di kompleks pemakaman Masjid Azizi Tanjung Pura.
Pepatah mengatakan, harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading. Peristiwa tragis yang dialami Amir Hamzah tidak meninggalkan aib baginya. Atas usulan masyarakat, karena telah mengembangkan kebudayaan, khususnya kesusastraan, Amir Hamzah akhirnya ditabalkan menjadi Pahlawan Nasional sejak 10 November 1975 berdasarkan SK Presiden No.106/TK Tahun 1975. Selain itu, namanya juga dipakai sebagai nama gedung pusat kebudayaan Indonesia di kedutaan besar RI di Kuala Lumpur Malaysia.
Selama hidupnya, Amir Hamzah telah menghasilkan sekitar 160 karya berupa 50 sajak asli, 77 sajak terjemahan, 18 prosa liris asli, 1 prosa liris terjemahan, 13 prosa asli, dan 1 prosa terjemahan. Karya-karyanya yang terkenal terkumpul dalam antologi Buah Rindu (1941) dan Nyanyi Sunyi (1937). Selain itu, ia menerbitkan pula sekumpulan sajak terjemahan dari negara tetangga seperti Jepang, India, Arab, Persia, dan lain-lain dalam antologi Setanggi Timur (1939) dan terjemahan Bhagawat Gita yang dipetik dari Mahabarata berisi dialog antara Kresyna dan Arjuna.
Sumber berita: analisadaily.com

Biografi Khalil Gibran (1883-1931)

khalil gibran Biografi Khalil Gibran (1883 1931)
Khalil Gibran was born in Bechari (Bsharri), Lebanon, a mountain village of Maronite Christians. A talented child, he was modelling, drawing, and writing at an early age. Gibran’s mother took her children to the United States, but their father remained in Lebanon.
The family settled first in Boston, then in New York. Gibran returned to Lebanon in 1897 for two years to study Arabic literature in Beirut at al-Hikma College. Gibran’s artistic talents was recognized early and he was introduced to F. Holland Day, a photographer, who tutored him in art and literature. Through Day Gibran was given entrée to Boston society, where he acquired valuable contacts. Gibran’s mother died when he was 20. His sister supported him while he established himself as a writer and painter. Gibran’s most ardent benefactress was Mary Haskell, the headmistress of a progressive girl’s school in Cambridge. She supported her protégé financially for most of his career.
In 1904 Gibran had his first art exhibition in Boston. His first book, AL-MUSIQA (1905) was about music. It was followed by two collections of short stories and a novelette in 1912. From 1908 to 1910 he studied art in Paris with August Rodin. In 1912 he settled in New York, where he devoted himself to writing and painting. Though concerned with the transcendental in his books, the basic subject in Gibran’s art was naked human bodies, tenderly intertwined .
Gibran’s early works were written in Arabic and are considered central to the development of modern Arabic literature. Gibran also wrote for journals published by the Lebanese and Arab communities in the U.S. From 1918 he wrote mostly in English and managed to revolutionize the language of poetry in the 1920s and 1930s. His first book for the publishing company Alfred Knopf was THE MADMAN (1918), a slim volume of aphorisms and parables written in biblical cadence somewhere between poetry and prose.
Usually Gibran used prophetic tone to condemn the evils that torment his homeland or threaten the humankind. His style, a combination of beauty and spirituality, became known as ‘Gibranism’. “I am a stranger to myself. I hear my tongue speak, but my ears find that voice strange. I may see my hidden self laughing, crying, defiant frightened, and thus does my being become enamored of my being and thus my soul begs my soul for explanation. But I remain unknown, hidden, shrouded in fog, veiled in silence.” (from ‘The Poet’)
In 1920 he founded a society for Arab writers called “Aribitah” (the pen bond), and supported the struggle to revolutionize the classically conservative Arabic literature. A very important channel for new ideas was Al Magar, the first New York Arabic newspaper, that Gibran wrote for. Other influential writers included Mikha’il Nu’aima (1889-1988), Iliya Abu Madi (1889-1957), Nasib Arida (1887-1946), Nadra Haddad (1881-1950), and Ilyas Abu Sabaka (1903-47). Especially Mikha’il Nu’aima’s critical writings paved way to new freedom in poetic expression. Although Gibran was not a great poetry in verse, and most of his writings in prose should not be regarded as ‘poetry’, he opened doors to a new kind of creativity. Salma Khadra Jayyusi wrote in 1987 that Gibran’s rhythm “fell on ears like magic, intoxicating in its frequent use of interrogations, repetitions, and the vocative; by a language which was at once modern, elegant, and original; and by an imagery that was evocative and imbued with a healthy measure of emotion. His vision of a world made sterile by dead mores and conventions but redeemable through love, good will, and constructive action deepened his readers’ insights en enlightened their views of life and man.”
Gibran died of liver disease, possibly accelerated by alcoholism, in New York on April 10, 1931. Upon his death, his body was shipped back to his hometown in Lebanon, where alongside his tomb The Gibran Museum was later established. In his will Gibran left all the royalties of his books to his native village.
“When the souls rise in the
light of their joy, my soul ascends glorified by the
dark of grief.
I am like you, Night! And when my morn comes, then
my time will end.”

Gibran’s best-known work is THE PROPHET, a partly autobiographical book of 26 poetic essays, which has been translated into over 20 languages. The Prophet, who has lived in a foreign city 12 years, is about to board a ship that will take him home. He is stopped by a group of people, whom he teaches the mysteries of life. The resulting 26 sermons are meant to emancipate the listeners. In the 1960s The Prophet became a counterculture guide and in the 1980s the message of spiritualism overcoming material success was adopted by Yuppies. Critics have not treated the book well. Its mystical poetry is frequently read at weddings even today. Among Gibran’s other popular books is THE EARTH GODS (1931), a dialogue in free verse between three titans on the human destiny.